MANUSIA MAKHLUK PALING MULIA

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia dibanding makhluk lainnya, bahkan dibanding malaikat sekalipun. Dalam suatu riwayat dijelaskan, suatu ketika Jibril a.s. bertanya kepada Rasulullah saw : Muhammad, siapakah yang lebih mulia, diriku atau dirimu ? Rasulullah s.a.w menjawab : Aku lebih mulia. Jibril a.s membalas : Engkau benar Muhammad’
Jawaban Rasulullah saw bukanlah pernyataan sepihak beliau dan bukan juga karena merasa paling hebat dibanding makhluk lainnya.
Paling tidak ada 3 pembenaran atas penyataan beliau, sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an dan hadis, antara lain :

Pertama : Manusia diciptakan sebagai makhluk paling sempurna
Allah swt berfirman :

“ Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada malaikat, “ Sujudlah kamu semua kepada Adam “, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata, “ Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah “ ( Qs`Al-Isra; 61 ).

“ dia (iblis) berkata, “ Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku ? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil “ ( QS Al-Isra ; 62 ).

“ Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak Adam, Kami angkut mereka didaratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan “ ( QS Al-Isra 70 ).

“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” ( QS At-Tin: 4 ).

” Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. dia membentuk rupamu dan dibaguskanNya rupamu itu dan Hanya kepada Allah-lah kembali(mu).”(QS At-Taghabun; 3 ).

Cacat fisik seseorang yang dibawa sejak lahir tidaklah mengurangi kesempurnaan manusia. Orang-orang penyandang cacat fisik sejak lahir biasanya memiliki rohani yang sehat karena dengan ikhlas menerima keadaannya dan sangat jarang kita temui diantara mereka cacat rohani (gila). Justru sebaliknya lebih banyak orang yang sempurna jasmaninya menderita penyakit gila, dikarenakan mereka tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada dirinya.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian “ (HR. Muslim).

Manusia yang sempurna adalah manusia yang bisa menundukkan kekuatan akalnya dengan kekuatan hatinya. Manusia yang sempurna adalah manusia yang melihat atau menilai sesuatu dengan hatinya. Allah katakan dalam firmannya :” Sesungguhnya yang buta itu adalah hati :

Kedua ; Manusia diberikan amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Allah swt berfirman :

“ Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada malaikat,” Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”, Mereka berkata , “ Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau ?” Tuhan berfirman, “ Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS Al Baqarah 30 ).

Kaum Musa berkata: “Kami Telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu ( QS Al Al A’raaf 129 ).
Meskipun pada dasarnya manusia itu diciptakan Allah Swt dalam keadaan lemah dan tanpa daya, namun manusia dipercaya Allah Swt untuk menjadi khalifah di muka bumi. Apakah tugas khalifah itu? Pertama : mengajak manusia untuk taat kepada Allah dan kedua ; manusia juga diamanatkan oleh Allah Swt untuk memelihara bumi bagi kelanjutan hidup manusia, tidak berbuat kerusakan baik terhadap diri sendiri, diri orang lain dan juga terhadap bumi itu sendiri dimana manusia tinggal dan beranak cucu.. Itulah kemuliaan dan kehormatan yang besar bagi umat manusia.
Ketiga : Alam semesta diciptakan untuk kehidupan manusia sebagai subyek utama..

Dilihat dari latar belakang dan proses penciptaan alam semesta raya. Alam semesta diciptakan Allah SWT betul-betul dedicated to human life sedangkan makhluk lain hanya sebagai pelengkap, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis qudsi bahwa tidaklah Allah SWT ciptakan alam semesta ini jika tidak karena nur Muhammad. Wallahu a’lam. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah subject utama dalam penciptaan tersebut.

” Dan dia (menundukkan pula) apa yang dia ciptakan untuk kamu di bumi Ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.” ( QS An Nahl 13 )

” Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” ( Qs An Nahl 14 ).

Namun predikat “ mulia “ tidaklah serta merta melekat dalam diri setiap manusia. Semuanya tergantung pada apa yang diperbuatnya di muka bumi selama hidupnya. Manusia bahkan bisa terjerumus ke dalam lembah kehinaan dan kegelapan. Orang-orang zalim, kafir, munafik dan fasik tidak termasuk bukanlah manusia mulia. Hanya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh yang layak disebut manusia mulia, sebagaimana firman Allah swt ;

” Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” ( QS, Al Hujuraat 13).

BERSEGERALAH MENUJU AMPUNAN TUHANMU

By : Ismail Zubir
Tiada manusia yang sempurna. Tiada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan. Bahkan para nabi dan rasulpun tidak ada yang luput dari kesalahan.

MENGAPA MANUSIA BERBUAT DOSA ?

Perbuatan dosa bisa disebabkan oleh 3 perkara :
1. Orang yang berbuat maksiat tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah
maksiat kecuali jika dipikirkan lebih dahulu.
2. Orang yang durhaka kepada Allah baik dengan sengaja atau tidak.
3. Orang yang melakukan kejahatan karena kurang kesadaran lantaran sangat marah
atau karena dorongan hawa nafsu.

Pada hakekatnya semua itu tidak lain karena pengaruh bisikan syaitan dan iblis, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al A’raaf ayat 12 sd 17 :

“ Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; Karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya, sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus . Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)..”

Itulah cikal bakal kebencian iblis terhadap manusia, yang telah berikrar dihadapan Allah swt akan menyeret anak cucu Adam sebanyak mungkin masuk neraka, bersama mereka. Maka siapa saja yang lengah, tidak akan luput dari godaan syaitan dan iblis dan dengan mudah akan terjerumus dalam kezaliman dan kesesatan.

ALLAH MAHA PENGAMPUN DAN MENERIMA TAUBAT.

Namun meskipun manusia penuh dengan lumuran dosa, bila mereka bertaubat maka sesungguhnya Allah swt Maha Pengampun dan Menerima Taubat hamba-hambaNya. Allah swt berfirman :

“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” ( QS Ali Imran 133 ).

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” ( QS. An Nur : 31 )

“ Yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya, yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).” ( QS. Al Mu’min ; 3 ).

“ Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” ( QS. An Nisa, 17 ) .

Begitupun dari beberapa hadis Rasulullah saw kita ketahui bahwa ampunan Allah swt begitu luas, sebagaimana diriwayatkan oleh para sahabatnya :

Dari Abu Said al-Khudri, ia menuturkan, aku mendengar Rasulullah bersabda : “ Iblis berkata kepada Tuhannya, ‘ Demi keperkasaanMu dan keagunganMu, aku akan selalu menyesatkan anak keturunan Adam selama ruh masih berada dalam jasad mereka.’ Allah menjawab, ‘ Demi keperkasaanKu dan keagunganKu, Aku akan selalu mengampuni mereka selagi mereka meminta ampunan kepadaKu’ “ ( HR. Ahmad ).

Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ariy ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “ Sesungguhnya Allah Ta’ala itu membentangkan tangan-Nya ( memberikan kesempatan ) pada waktu malam, untuk tobat orang yang berbuat dosa pada siang hari. Dan membentangkan tangan-Nya pada waktu siang, untuk tobat orang yang berbuat dosa di malam hari, hingga matahari terbit dari barat. “ ( HR. Muslim ).

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Ansahriy ( pembantu Rasulullah saw. ), ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “ Sesungguhnya Allah gembira menerima tobat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang diantara kalian ketika menemukan kembali ontanya yang hilang di padang yang luas” ( HR. Bukhari Muslim ).

Maka seberapa besarpun dosa kita, seberapa banyakpun dosa kita, Allah swt akan mengampuninya selama kita tidak mempersekutukanNya. Bahkan Allah swt tidak akan pernah bosan mengampuni dosa manusia, meskipun mereka mengulanginya lagi, lagi dan lagi sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut ini :

Dari Anas ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “ Allah Ta’ala berfirman : Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan mengharap kepadaKu niscaya Aku ampuni dosa yang telah kamu lakukan dan Aku tidak memperdulikan berapa banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu bagaikan awan di langit, kemudian kamu minta ampun kepadaKu niscaya Aku mengampunimu Aku tidak memperdulikan berapa banyak dosamu. Wahai anak Adam, seandainya kamu datang ke hadapanKu dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian bertemu dengan Aku tanpa menyekutukan sesuatu apapun dengan-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosa seisi bumi itu.” ( HR. Turmudzi ).

Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw. tentang yang beliau riwayatkan dari Tuhannya, beliau bersabda: “ Seorang hamba melakukan satu perbuatan dosa lalu berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosaku”. Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau akan menghukum karena dosa itu. Kemudian orang itu mengulangi perbuatan dosa, lalu berdoa lagi: Wahai Tuhan-ku, ampunilah dosaku. Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menyiksa karena dosa itu. Kemudian orang itu melakukan dosa lagi, lalu berdoa: Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku. Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menghukum karena dosa itu serta berbuatlah sesukamu, karena Aku benar-benar telah mengampunimu. Abdul A`la berkata: Aku tidak mengetahui apakah Allah berfirman “berbuatlah sesukamu” pada yang ketiga kali atau keempat kali.” (Shahih Muslim No.4953)

Bahkan seorang penjahat yang telah membunuh seratus orang, kemudian betul-betul ingin bertobat, diterima tobatnya. Meskipun dia belum sempat berbuat amal saleh karena ajal keburu menjemput, dia sudah digolongkan ke dalam orang-orang yang akan memerima rahmat di akhirat kelak dan diampuni dosanya, sebagaimana riwayat berikut ;
Dari Abu Said Al-Khudri ra.: bahwa Nabi saw. bersabda: “ Di antara umat sebelum kamu sekalian terdapat seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Lalu dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling berilmu, kemudian dia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Dia pun mendatangi pendeta tersebut dan mengatakan, bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah tobatnya akan diterima? Pendeta itu menjawab: Tidak! Lalu dibunuhnyalah pendeta itu sehingga melengkapi seratus pembunuhan. Kemudian dia bertanya lagi tentang penduduk bumi yang paling berilmu lalu ditunjukkan kepada seorang alim yang segera dikatakan kepadnya bahwa ia telah membunuh seratus jiwa, apakah tobatnya akan diterima? Orang alim itu menjawab: Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi tobat seseorang! Pergilah ke negeri Anu dan Anu karena di sana terdapat kaum yang selalu beribadah kepada Allah lalu sembahlah Allah bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu itu negeri yang penuh dengan kejahatan! Orang itu pun lalu berangkat, sampai ketika ia telah mencapai setengah perjalanan datanglah maut menjemputnya. Berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab mengenainya. Malaikat rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertobat dan menghadap sepenuh hati kepada Allah. Malaikat azab berkata: Dia belum pernah melakukan satu perbuatan baik pun. Lalu datanglah seorang malaikat yang menjelma sebagai manusia menghampiri mereka yang segera mereka angkat sebagai penengah. Ia berkata: Ukurlah jarak antara dua negeri itu, ke negeri mana ia lebih dekat, maka ia menjadi miliknya. Lalu mereka pun mengukurnya dan mendapatkan orang itu lebih dekat ke negeri yang akan dituju sehingga diambillah ia oleh malaikat rahmat.” (Shahih Muslim No.4967)

Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Manusia diberi pilihan, berbuat amal shalih , taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya atau berbuat kemungkaran. Tetapi selalu ada jalan kembali untuk mereka yang berbuat kemungkaran, yaitu dengan bertaubat dan memohon ampunan-Nya. Sesungguhnya juga bila tidak ada manusia yang berbuat dosa di muka bumi ini, maka Allah akan gantikan dengan umat lain yang berbuat dosa, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis berikut ;

Dari Ayyub Al-Anshariy ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “ Andaikan kalian tidak berbuat dosa, Allah pasti menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampunan maka Allah pun mengampuni dosa mereka.” ( HR. Muslim ).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “ Demi Zat yang menguasai diriku, seandainya kalian tidak berbuat dosa ( dan tidak beristighfar dan bertobat ), niscaya Allah Ta’ala pergi membawa kalian dan datang dengan kaum yang lain yang berbuat dosa, lalu meminta ampun kepada Allah Ta’ala, Allah pun mengampuni mereka.” ( HR. Muslim ).

BOLEHKAN TOBAT DICICIL ?

Ini selalu menjadi pertanyaan banyak orang. Misalkan ada seseorang melakukan banyak perbuatan dosa, seperti mencuri, berjudi, berzina dan bermabuk-mabukan , bolehkan dia mulai bertaubat mencuri, kemudian setelah itu taubat berjudi, kemudian taubat berzina dan terakhir taubat bermabuk-mabukan. Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa menurut ahlil haq, seseorang yang bertobat hanya sebagian dosanya, adalah sah, tetapi dosa yang lain masih tetap. Saya jadi teringat pada sahabat saya Gito Rollies. Dalam suatu pertemuan sesama alumni SMA 2 Bandung, dia menceritakan kepada kami bagaimana caranya dia bertaubat. Ketika dia ikrar untuk bertaubat, tidak sulit katanya untuk meninggalkan perbuatan dosa lain, kecuali meninggalkan kebiasaannya minum minuman keras. Dia seorang pecandu berat minuman keras. Kebetulan di rumahnya masih ada beberapa peti minuman keras. Ketika dia tidak bisa menahan keinginannya untuk minum, dia ambil sebotol wisky dan dia berdoa dan mohon kepada Allah agar diizinkan untuk minum. Kemudian dia buang isi botol sedikit dan dia minum sisanya. Begitu seterusnya dia lakukan berulang-ulang, tetapi pada botol-botol berikutnya semakin banyak isinya yang dibuang. Sampai suatu saat isi botol yang dibuang sangat banyak, sehingga yang tersisa dalam botol hanya sedikit, lalu dia minum. Perjuangan yang berat adalah pada botol berikutnya, ketika hasratnya untuk minum masih ada. Dia buka tutup botol, dia buang isinya perlahan-lahan dan Alhamdulillah dia berhasil membuang seluruh isinya sehingga tidak ada yang tersisa sedikitpun di dalam botol. Akhirnya dia buka seluruh botol yang tersisa, dia buang habis seluruh isinya dan tidak ada lagi botol setan dirumahnya. Tepat di usianya yang ke 50, setahun setelah dia ikrar, dia betul-betul bertobat dari semua perbuatan dosa dan tetap istiqomah sampai akhir hayatnya. Dia wafat dalam keadaan khusnul khotimah. Semoga Allah mengampuni dosanya dan menempatkannya pada tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

SYARAT TOBAT DITERIMA :

Semua orang yang beriman tentu berharap akhir kehidupannya “ khusnul khotimah “ dan dapat mengucapkan kalimat thoyibah “ La ilaha illallah “ dengan sempurna, sebagaimana sabda Rasulullah saw : “ Man kana akhirul qalaamihi la ilaha illallah dhaholal jannah.” ( Barangsiapa yang akhir ucapannya la ilaha illallah akan masuh surga ). Maka sebaik-baiknya taubat adalah taubatan nasuha, karena kita tidak pernah tahu kapan kematian menjemput kita. Allah swt berfirman :

“ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( QS. At Tahrim ; 8 ).

Imam Al Nawawi dalam kitabnya Rhiyadus Shalihin, menyebutkan syarat taubat itu ada tiga, yaitu :
1. Harus meninggalkan maksiat yang telah dilakukan
2. Menyesali perbuatannya
3. Bertekad tidak melakukannya kembali perbuatan itu selama-lamanya.
Apabila salah satu dari 3 syarat itu tidak dipenuhi, maka tobatnya tidak sah.
Kalau tobat itu berhubungan dengan sesama manusia maka syaratnya ada empat, yaitu 3 syarat yang telah disebutkan, ditambah dengan membersihkan atau membebaskan diri dari hak tersebut, dengan cara :
– Apabila berupa harta benda, maka harta itu harus dikembalikan kepada
pemiliknya.
– Apabila berupa had qadzal ( menuduh zina ) dan semisalnya, maka kewajibannya menyerahkan diri kepada orang yang punya hak, atau meminta maafnya.

MEMPERBAIKI DIRI SETELAH BERTAUBAT.

Untuk menyempurnakan ketiga syarat tersebut di atas, maka agar taubat kita betul-betul diterima Allah swt dan semua kejahatan kita diganti dengan kebajikan maka harus dibarengi dengan upaya memperbaiki diri. Allah swt berfirman :

“Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, Maka Sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. Al Maidah ; 39 )

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. Al Anam; 54 )

“ Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. An Nahl ; 119 )

“ Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ ( QS. An Nur ; 5 )

“ Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka kejahatan mereka itu diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, Maka Sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan Taubat yang sebenar-benarnya.” ( QS. Al Furqan ; 70,71 )

BILAKAH PINTU TOBAT TERTUTUP ?.

Pintu taubat tertutup pada tiga saat :

1.Pada hari kiamat.
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “ Siapa saja yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah menerima tobatnya. “ ( HR. Muslim ).

2. Pada waktu sekarat.

“ Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah kami sediakan siksa yang pedih.” ( QS. An- Nisa, 18 ).

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khatab ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “ Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung akan menerima tobat seseorang sebelum nyawa sampai di tenggorokan ( sebelum sekarat ).” ( HR. Tirmidzi ).

3.Pada saat dibangkitkan di akhirat.
Allah swt berfirman :

“ Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; Maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya). Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi. “ ( QS. Ar Rum 56,57 )

BERTAUBAT DENGAN ISTIGHFAR .
Bagaimana caranya bertaubat ?. Bertaubat sangat mudah. Cukup membaca istighfar ataupun membaca doa-doa yang mengandung istighfar, sebagaimana hadis berikut :
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “ Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar dan bertobat kepadaNya lebih dari tujuh puluh kali setiap hari .” ( HR. Bukhari ).
Dari Al-Aghar bin Yasar Al-Muzanny ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “ Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya saya bertobat seratus kali setiap hari” ( HR. Muslim ).
Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “ Kami menghitung Rasulullah saw. membaca : RABBIIGHFIRLII WATUB’ALAIYYA INNAKA ANTA TAWWABUR RAHIIM ( Ya Tuhan, ampunilah saya dan terimalah tobat saya. Sesungguhnya Engkau Zat penerima tobat lagi Maha Penyayang ) seratus kali dalam satu majlis ( satu kali duduk ).” ( HR. Abu Dawud dan Turmudzi ).
Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “ Barangsiapa yang membiasakan membaca istighfar, maka Allah akan melapangkan segala kesempitannya, memudahkan segala kesulitannya dan memberi rezeki yang tanpa diduga-duga. ( HR. Abu Dawud ).
Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “ Barangsiapa membaca : ASTAGHFIRULLAAH ALLADZI LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI ( Saya mohon ampun kepada Allah Zat yang tidak ada Tuha kecuali Dia yang Maha Hidup, lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya dan saya bertobat kepada-Nya, maka diampunlah dosa-dosanya walaupun ia telah meninggalkan perang.” ( HR. Abu Dawud, Turmudzi dan Hakim ).
Dari Tsuban ra., ia berkata : “ Adalah Rasulullah saw. apabila telah selesai dari salatnya, beliau beristighfar kepada Allah tiga kali dan mengucap : ALLAAHUMMAA ANTAS SALAAMU WAMINKASSALAAMU TABAARAKTA YAA DAL JALAALI WAL IKRAAMI ( Ya Allah, Engkau adalah ZatYang Maha Sejahtera dan dari Engkaulah segala kesejahteraan. Engkaulah yang senantiasa memberi berkah wahai Zat Yang Maha Agung lagi Maha Mulia ).” Ditanyakan kepada Al ‘Auza’I dimana ia adalah seorang perawi hadis : “ Bagaimanakah istighfar ini ?” Jawabnya : “ ASTAGHFIRULLAAH ASTAGHFIRULLAAH ( Saya mohon ampun kepada Allah, saya mohon ampun kepada Allah).’ ( HR. Muslim ).
Dari ‘ Aisyah r.anha., ia berkata : “ Adalah Rasulullah saw. sebelum meninggal dunia, beliau senantiasa membaca : SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH ( Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-NYa saya mohon ampun dan bertobat kepada-Nya ).” ( HR. Bukhari Muslim ).

BERSALAWATLAH ATAS NABI DAN SAMPAIKAN SALAM PENGHORMATAN

By : Ismail Zubir
Rasulullah saw. semasa hidupnya sudah menerima jaminan dari Allah swt diampuni dosa-dosanya yang lalu dan juga dosa-dosanya yang akan datang. Lalu mengapa kita harus bersalawat atas nabi ?. Bukankah Rasulullah saw adalah hamba Allah yang makhsum ( suci dari dosa ). Alasannya pertama karena salawat adalah perintah Allah swt, kedua sesungguhnya salawat nabi sebagaimana juga bersyukur kepada Allah, fadhilahnya (manfaatnya) adalah kembali kepada diri orang yang mengucapkannya dan ketiga agar memperoleh syafaat beliau di yaumil akhir nanti.

Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya ” ( QS. Al- Ahzab, 56 ).

Rasulullah saw bersabda dalam beberapa hadis berikut :

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bersalawat kepadaku sekali, maka Allah memberikan rahmat kepadanya sepuluh kali “. (HR. Muslim)

Dari Aus bin Aus ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Oleh karena itu perbanyaklah membaca salawat untukku pada hari itu, karena sesungguhnya bacaan salawatmu itu diperlihatkan kepadaku.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana bacaan salawat kami diperlihatkan kepada engkau sedangkan jasad engkau sudah bercampur dengan tanah?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (HR. Abu Dawud)

Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Orang yang paling dekat denganku nanti pada hari kiamat, adalah mereka yang paling banyak membaca salawat untukku “. (HR. Turmudzi) Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai tempat perayaan, dan bacalah salawat untukku karena sesungguhnya bacaan salawatmu akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.” (HR. Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seseorang yang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mangembalikan nyawaku, sehingga aku dapat menjawab salam kepadanya.” (HR. Abu Dawud).

Dari Abdurrahman bin Auf, ia menuturkan, Rasulullah keluar lalu aku mengikutinya hingga beliau masuk kebun kurma, lantas beliau sujud lama sekali sehingga aku kuatir bila Allah mewafatkannya. Kemudian aku datang untuk melihatnya, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya bertanya, ” Mengapa kamu, wahai Abdurrahman. ” Lalu aku menyebutkan hal itu kepada beliau, maka beliau bersabda, ” Jibril berkata kepadaku, ” Ketahuilah, aku akan menyampaikan kabar gembira kepadamu. Sesungguhnya Allah berfirman untukmu : Barangsiapa yang bersalawat kepadamu, maka Aku berikan rahmat kepadanya, dan barangsiapa yang memberi salam kepadamu, maka Aku berikan kesejahteraan kepadanya. ” ( HR. Ahmad, al-Baihaqi, Abu Ya’ la)

Bilakah bersalawat

Bersalawat sebagaimana juga bertasbih bisa dilakukan kapan saja. Biasanya setelah shalat dan wiridan dilanjutkan dengan doa. Maka setiap doa harus diawali dengan pujian kepada Allah swt dan dilanjutkan dengan bersalawat untuk Rasulullah saw.

Dari Fadhlah bin Ubaid ra., ia berkata: Rasulullah saw. mendengar seseorang berdoa sewaktu salat, dimana ia tidak mengagungkan nama Allah Ta’aIa dan tidak membacakan salawat untuk Nabi saw., kemudian Rasulullah saw. bersabda: “ Orang ini sangat tergesa-gesa.” Beliau lantas memanggilnya dan bersabda kepadanya atau juga kepada yang lain: “Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan salat, maka hendaknya ia memulainya dengan memuji dan menyanjung Tuhannya Yang Maha Suci, kemudian membacakan salawat untuk Nabi saw., baru sesudah itu berdoa sekehendaknya.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).

Bersalawat bisa juga dilakukan bersamaan waktunya dengan waktu-waktu bertasbih dan waktu-waktu lainnya.

Bacaan salawat.

Bacaan salawat yang paling pendek adalah ALLAHUMMAA SHALLI ALA MUHAMMAD atau SHALLALLAHU ALA MUHAMMAD, dibaca berulang-ulang sebanyak-banyaknya, atau bacaan yang panjang sebagai berikut :

Dari Muhammad bin Ka’ab bin Uzjah ra., ia berkata: Nabi saw. datang kepada kami, kemudian kami bertanya: “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui tentang bagaimana caranya kami mengucapkan salam untuk engkau, tetapi bagaimana cara membacakan salawat untuk engkau?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah: ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD WA’ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA_ SHALLAITA ‘ALAA AALI IBRAAHIIMA INNAKA HAMIIDUM MAJIID. ALLAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAARAKTA ‘ALAA AALI IBRAAHIIMA INNAKA HAMIIDUM MAJIID” (Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau adalah yang Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Zat Yang Maha Terpuji lagi Maha Agung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Mas’ud Al Badriy ra., ia berkata: Rasulullah saw. datang kepada kami sedangkan kami sedang berada di majlis Sa’ad bin Ubadah ra., kemudian Basyir bin Sa’ad bertanya kepada beliau: “Allah telah menyuruh untuk membacakan salawat untuk engkau?” Kemudian Rasulullah saw. diam, sehingga kami khawatir kalau apa yang di tanyakan oleh Basyir itu tidak berkenan di benak beliau, tetapi Rasulullah saw. bersabda: “Ucapakanlah: ALLAAHUMMA SHALLII “ALAA MUHAMMAD WAA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHALLAITA “ALAA IBRAAHIIMA WABAARIK “ALAA MUHAMMAD WA”ALAA AALI AALISAYYIDINA MUHAMMAD KAMAA BAARAKTTA “ALAA SYAYIDINA IBRAHIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID” (Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Ibrahim, dan limpahlcanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau limpahkan keberkahan kepada Ibrahim, sesungguhnya Engkau adalah Zat yang paling terpuji lagi Maha Agung). Dan ucapan salam sebagaimana yang telah kalian ketahui. “ (HR. Muslim)

Dari Abu Hamid As Sa’idiy ra., ia berkata : Para sahabat bertanya : “ Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami membacakan salawat untuk engkau?’ Beliau bersabda : “ Ucapkanlah ; ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD WA”ALAA AZWAAJIHII WADZURRIYYATIHII KAMAA SHALLAITA “ALAA IBRAAHIIM WABAARIK “ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AZWAAJIHII WADZURRIYYATIHII KAMAA BAARAKTA “ALAA IBRAHIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID”. ( Ya Allah, limpahkan rahmat kepada Muhammad beserta istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Ibrahim, dan limpahkanlah berkah kepada Muhammad beserta istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah kepada Ibrahim, sesungguhnya Engkau adalah zat Yang Maha Terpuji lagi Maha Agung.” ( HR. Bukhari dan Muslim ).

BERTASBIH KEPADA ALLAH APA YANG ADA DI LANGIT DAN BUMI

By : Ismail Zubir
Bila angin berdesir, mungkin dia sedang bertasbih kepada Allah. Bila guruh menggelegar mungkin dia sedang bertasbih kepada Allah. Bila ombak berdebur, mungkin dia sedang bertasbih kepada Allah. Bila pepohonan berdesau mungkin dia sedang bertasbih kepada Allah. Bila gunung bergejolak, mungkin dia sedang bertasbih kepada Allah. Bila burung berkicau mungkin dia sedang bertasbih kepada Allah.

Allah swt berfirman :

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” ( QS Al Israa’, 44 ).

“ Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.( QS Az Zumar, 75 ).

“ Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat Karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan yang Maha keras siksa-Nya. “ ( QS Ar Ra’d, 13 ).

“ Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya , dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” ( QS An Nuur, 41 ).

“ Maka kami Telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah kami berikan hikmah dan ilmu dan Telah kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. dan kamilah yang melakukannya.” ( QS Anbiya, 79 ).
Lalu mengapa kita tidak bertasbih ? Bukankah Allah telah menjadikan kita makhluk yang paling mulia diantara semua makhluk ciptaannya ?.

“ Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat).” ( QS Al Hijr 98 ),

“ Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong “. ( QS As Sajadah, 15 ).

Bilakah bertasbih ?
Bertasbih bisa kapan saja. Tetapi saat-saat bertasbih yang paling afdhol, tentu saja sebagaimana yang diatur oleh oleh Sang Penguasa, Allah Azza wa Jalla. Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menentukan kapan sebaiknya bertasbih. Waktunya antara lain pada pagi hari, petang hari, siang hari, malam hari ( terutama pada malam yang panjang; yaitu setelah Isya sampai Subuh ), sebelum matahari terbenam, sebelum terbit fajar dan sesudah sholat, sebagaimana firman Allah swt berikut ini :

“ Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” ( QS Al Ahzab, 41 – 42 ).

“ Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang Telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. “ ( QS An Nuur, 36 )

“ Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh. “ ( QS Ar Ruum, 17 ).

“ Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. “ ( QS. Al Fath, 9 ).

“ Maka Bersabarlah kamu, Karena Sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” ( Qs. Mu’min, 55 )

“ Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” ( QS Thahaa, 130 )

“ Maka Bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang. “ ( QS Al Qaf, 39 – 40 )

“ Dan Bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, Maka Sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar). “ ( QS. Thur, 48 – 49 )

“ Dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.” ( QS Al- Insaan, 26 )

Apakah perbedaan dzikir, tasbih / wirid.

Dzikir berasal dari kata dzakara yang berarti memberi peringatan atau mengingat. Maka pengertian dzikir lebih luas dari tasbih / wirid. Shalat, tasbih, doa, mengaji semuanya termasuk dzikir. Sedangkan tasbih berasal dari kata sabaha yang artinya mensucikan. Wirid bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Melayu, yang artinya perkataan yang diulang-ulang. Jadi sebetulnya tasbih dan wirid sama artinya.

Bacaan tasbih.

Ucapan utama alam bertasbih adalah SUBHAANALLAAH yang artinya Maha Suci Allah. Tetapi saat bertasbih dianjurkan juga mengucapkan ALHAMDULILAH ( Tahmid ) dan ALLAHU AKBAR ( Takbir ), LA ILAHA ILLALLAH ( Tahlil ) dlsbnya, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw dalam beberapa hadis, antara lain :

Dari Abu Dzar ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda kepada saya : “ Maukah kamu aku beritahu kalimat yang paling disukai oleh Allah ? Sesungguhnya kalimat yang paling disukai oleh Allah adalah : SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI. “ ( HR. Muslim ).

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw, bersabda : “ Dua kalimat yang ringan pada lisan, berat pada timbangan amal, disukai oleh Allah Yang Maha Pengasih, yaitu SUBHAANALLAAH WABIHAMDIHI, SUBHAANALLAAHIL AZHIM ( Maha Suci Allah dengan memuji kepada-Nya; Maha Suci Allah Yang Maha Agung ).” ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw, bersabda : “ Sungguh jika aku mengucap : SUBHAANALLAAH WALHAMDULILLAH WALAA ILAAHA ILLALLAAHU AKBAR ( Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar ), itu lebih aku sukai, daripada apa yang disinari matahari ( dunia ).” ( HR. Muslim ).

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw, bersabda : “ Barangsiapa mengucapkan : LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU ‘LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ ALAA KULLI SYA’IN QADIIR ( Tidak ada Tuhan selain Allah Zat Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan dan segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu ) dalam sehari seratud kali, maka baginya ( pahalnya ) sama dengan memerdekakan sepuluh budak dan ditulis untuknya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan dan ucapan itu meruapakan penjagaan baginya dari gangguan setan pada hari tersebut sampai petang, serta tidak seorangpun datang dengan membawa yang lebih utama dari apa yang ia bawa ( kelak di hari kiamat ), kecuali seseorang yang beramal lebih banyak dari itu.” Dan beliau bersabda pula : “ Barangsiapa mengucapkan SUBHAANALLAAH WABIHAMDIHI, dalam sehari seratus kali, maka turunlah kesalahan-kesalahannya, meskipun kesalahan-kesalahannya itu sebanyak buih di laut. “ ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Dari Abu Hurairah ra, ia dari Rasulullah saw, bersabda : “ Barangsiapa membaca tasbih tiga puluh tiga kali setiap selesai shalat, membaca tahmid tiga puluh tiga kali dan membaca takbir tiga puluh tiga kali, kemudian untuk melengkapi bilangan seratus ia membaca : LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU ‘LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ ALAA KULLI SYA’IN QADIIR, maka diampunilah dosa-dosanya walaupun dosa-dosanya itu seperti buih di lautan. “ ( HR. Muslim ).

Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata : Rasulullah saw. bersabda ; “ Pada malam Isra’ aku bertemu dengan Nabi Ibrahim as. dan beliau bersabda : Wahai Muhammad, sampaikanlah salamku untuk umatmu dan beritahukanlah kepada mereka bahwa surga itu tanahnya subur dan airnya segar, serta merupakan suatu kebun dan tanamannya adalah : SUBHAANALLAAHI WALHAMDULILLAH WALAA ILAAHA ILLALLAAHU WALLAAHU AKBAR. “ ( HR. Turmudzi ).

SYAFAAT, SATU-SATUNYA JALAN KELUAR DARI NERAKA

By : Ismail Zubir
Di akhirat nanti hanya ada dua tempat kembali, yaitu surga atau neraka. Siapa saja yang timbangan amalnya lebih berat kepada kebaikan, akan masuk surga dan kekal di dalamnya. Begitu sebaliknya, siapa saja yang timbangan amalnya lebih berat kepada keburukan, akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Begitulah ketetapan Allah swt sebagaimana yang diterangkan dalam Al Qur’an, Surat Al Mukminun 102-103.

” Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, Maka mereka Itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, Maka mereka Itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka jahannam”.

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. ( QS. An Nisa 14 )

Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gelita, mereka Itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. ( QS. Yunus,27 )

Selama ini banyak orang mukmin mengira bahwa tinggal di neraka hanya kekal bagi orang kafir, sedangkan mereka hanya tinggal sementara sesuai dengan takaran dosanya. Mereka mengira semakin sedikit dosanya semakin cepat tinggal di neraka, semakin besar dosanya semakin lama tinggal di neraka,. Neraka dianggap hanya sebagai tempat pencucian dosa. Ini adalah anggapan yang keliru. Tidak ada satu ayatpun di dalam Al Quran dan tidak ada satu hadispun yang mengatakan demikian.

Takaran dosa tidak menentukan cepat atau lamanya tinggal di neraka. Takaran dosa hanya menentukan azab apa yang akan diterima. Semakin besar dosanya semakin berat azabnya, sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut :

Dari Samurah Ibnu Jundub r.a meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda ” Dan diantara mereka ada sebagian manusia yang dimakan oleh api sampai ke pergelangan kaki, dan ada sebagian yang sampai ke lutut mereka, dan ada sebagian orang yang terbakar sampai pinggang mereka, dan ada sebagian dari mereka yang dimakan habis oleh api sampai tulang selangka. ( HR. Muslim )

Maka apakah tidak ada kemungkinan bagi orang mukmin yang tinggal di neraka itu, suatu saat kelak akan diangkat dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga ? Sesungguhnya kemungkinan itu ada dan hal itu tersirat di dalam Al Qur’an dan tersurat dalam beberapa hadis nabi. Sebagian ulama tafsir berpendapat bahwa pengertian kekal di neraka berbeda perlakuannya bagi orang mukmin dan orang kafir.

Bagi orang mukmin yang berdosa, tinggal di neraka itu meskipun kekal tetapi akan ada akhirnya. Oleh karena itu ada perbedaan redaksional untuk menggambarkan orang mukmin dan orang kafir yang tinggal di neraka. Untuk orang mukmin istilah yang digunakan dalam bahasa Arab Qur’an, kholidiina fiiha. Pengertian kekal di sini oleh para mufasir ditafsirkan sebagai suatu masa yang sangat lama, lama, lama sekali, sebagaimana firman Allah swt dalam surat An-Naba, 22-23

Menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya,

Sedangkan untuk orang kafir istilah yang digunakan adalah kholidiina fiiha aabada. Ada tambahan kata aabada. Maka bagi orang kafir mereka akan tinggal di neraka kekal selama-lamanya dan tanpa akhir, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al Ahzab 64-65 ;

Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong.

Maka satu-satunya jalan keluar dari neraka bagi orang mukmin hanyalah syafaat.
Dalam Al Qur’an ada beberapa ayat yang menerangkan hal tersebut, antara lain sebagai berikut :

Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan yang Maha Pemurah. ( QS. Maryam : 87 )

Catatan : Maksudnya: Mengadakan perjanjian dengan Allah ialah menjalankan segala perintah Allah dengan beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Pada hari itu tidak berguna syafa’at , kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah Telah memberi izin kepadanya, dan dia Telah meridhai perkataannya. ( QS Tha Ha 109 ).

Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati Karena takut kepada-Nya. ( QS Al Anbiya: 28 )
…………. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. ……… ( QS Al Baqarah : 255 )

Kemudian ada dua ayat di dalam Al Qur’an yaitu surat Al An’am ayat 128 dan surat Huud ayat 107, yang menyiratkan bahwa Allah bisa berubah kehendak.

” Dan (Ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, Sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, Sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”.
( Surat Al An’am 128 ).

”Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki.” ( Surat Hud 107 )
Catatan : alam akhirat juga mempunyai langit dan bumi tersendiri.

Menurut pandangan ulama kedua ayat ini berhubungan dengan masalah syafaat.
Syafaat inilah yang akhirnya merubah keputusan Allah tentang kekekalan neraka bagi orang mukmin yang berdosa.

Apa dan siapa yang bisa memberikan syafaat.
Di yaumil akhir nanti yang pertama dapat memberi syafaat kepada kita adalah sholat kita, karena yang pertama dihisab adalah sholat. Apabila sholat kita baik, maka semuanya baik. Al Qur’an juga bisa memberi syafaat bagi para pembacanya.
Dari Abu Umamah ra, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda :

” Bacalah Al Qur’an ! Karena sesungguhnya Al Qur’an itu akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya ( yang berpegang pada petunjuk-petunjuknya )” ( HR Muslim )

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda :

” Di dalam Al Qur’an ada sebuah surat yang berisi 30 ayat yang dapat memberi syafaat kepada seseorang, sehingga ia diampuni, yaitu ayat TABAARAKALLADZII BIYADIHIL MULKU.” ( HR. Abu Dawud dan Turmudzi )

Kemudian siapa saja yang bisa memberikan syafaat, banyak sekali hadis yang menerangkannya. Pertama tentu saja Rasululllah saw. Jaminan bahwasanya Rasulullah saw telah diberikan izin untuk memberikan syafaat bagi umatnya adalah sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut :

“ Dari Sa’ad bin Abu Waqqas ra, ia berkata: Kami bersama-sama Rasulullah saw keluar dari Makkah menuju ke Madinah, ketika hampir sampai ke Azwara, beliau turun kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa sejenak kepada Allah lantas sujud. Beliau melakukannya tiga kali. Beliau bersabda : “ Sesungguhnya aku memohon kepada Tuhan agar diberikan syafaat kepada umatku, kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga umatku, maka aku bersujud kepada Tuhanku karena bersyukur. Setelah itu aku mengangkat kepala dan memohon kepada Tuhanku agar diizinkan memberikan syafaat kepada umatku, kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga umatku, maka aku bersujud kepada Tuhanku karena bersyukur. Setelah itu aku mengangkat kepala lagi dan memohon kepada Tuhanku agar diizinkan memberikan syafaat kepada umatku, kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga yang lain, maka aku sujud syukur kepada Tuhanku ( HR. Abu Dawud ).

“ Dari ibnu Malik Al Asyja’I ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Seorang malaikat datang kepadaku dari Rabbku dan memberikan kepadaku kebebasan untuk memilih antara separuh umatku masuk surga, atau wewenangku untuk syafaat. Oleh sebab itu aku memilih syafaat, ( supaya seluruh umatku mendapat manfaat daripadanya ) yaitu khusus bagi mereka yang mati tanpa menserikatkan sesuatu kepada Allah.” ( HR. Tirmidzi ).

Dari Anas ibnu Malik ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Syafaatku adalah khusus bagi umatku ( yang lalai belum bertobat ) dari dosa-dosa besar.” ( HR. Tirmidzi ).
Dari Abu Dzar dan Abu Darda r.anhuma meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Sungguh aku akan mengenal umatku antara umat yang lain pada hari kebangkitan. “ Sahabat r.anhuma bertanya : “ Wahai Rasulullah saw, bagaimana engkau dapat mengenal umatmu ?” Baginda bersabda : “ Aku mengenalnya dengan tanda-tanda pada dahi-dahi mereka ada bekas dari sujud, dan juga aku akan mengenali mereka dengan sebuah Nur yang yang khusus yang mengalir di hadapan mereka.” ( HR. Musnad Ahmad ).

Dari Jabir ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda :

” Barangsiapa ketika mendengar azan mengucapkan : ALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA’WATIT TAAMMAH WASHSHALAATIL QAA-IMATI AATI MUHAMADDAANIL WASHIILATA WAL FADLIILAH WAB’ ATSHU MAQAAMAN MAHMUUDAL LADZI WA’ ADTAHU ( Ya Allah, penguasa panggilan yang sempurna ini dan salat yang akan ditegakkan, berilah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan dan dudukkanlah ia pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan ), maka tetaplah baginya syafaatku kelak di hari kiamat.” ( HR. Bukhari ).

Dari Ma’bad bin Hilal al-Anazi, ia menuturkan, Kami orang-orang dari penduduk Bashrah berkumpul, lalu kami pergi kepada Anas bin Malik. Kami pergi kepadanya, bersama kami terdapat Tsabit al-Bunani. Ia bertanya kepadanya untuk kami tentang hadis syafaat. Ternyata ia berada di istananya dan kebetulan kami sedang melihatnya sedang salat Dhuha. Kemudian kami meminta izin dan ia mengizinkan untuk kami, sedangkan ia duduk di atas tempat tidurnya. Kami berkata kepada Tsabit, ” Jangan tanya kepadanya perkara pertama tentang dari hadis syafaat.” Ia mengatakan, ”Wahai Abu Hamzah, mereka adalah saudara-saudaramu dari penduduk Bashrah yang datang kepadamu untuk bertanya tentang hadis syafaat.” Dia menjawab Muhammad bercerita kepada kami :

” Pada hari kiamat, manusia berbaur satu sama lain. Lalu mereka mendatangi Adam seraya mengatakan ” Mintalah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu ” Ia menjawab, ” Aku tidak punya hak untuk itu, tetapi temuilah Ibrahim, sebab dia adalah Kekasih ar-Rahman.” Merekapun datang kepada Ibrahim, maka dia mengatakan ” Aku tidak berhak untuk itu, tapi datanglah kepada Musa, sebab dialah yang diajak Allah bercakap-cakap secara langsung.” Merekapun mendatangi Musa, Aku tidak berhak untuk itu, tetapi datanglah kepada Isa, karena dia adalah Ruh Allah dan kalimatNya.” Merekapun datang kepada Isa, maka Isa mengatakan ” Aku tidak berhak untuk itu, tetapi datanglah kepada Muhammad. Kemudian mereka datang kepadaku, maka aku mengatakan, ”Akulah yang berhak untuk itu.”
Kemudian aku minta izin kepada Tuhanku, dan Dia mengizinkan kepadaku serta mengilhamkan kepadaku pujian-pujian yang dengannya aku memujiNya yang tidak diberikan kepadaku sekarang ini. Aku memujiNya dengan pujian tersebut dan aku bersungkur dalam keadaan bersujud kepadaNya. Dikatakan kepadaku, ” Wahai Muhammad angkatlah kepalamu. Katakanlah ucapanmu akan didengar. Mintalah, permintaanmu akan dikabulkan. Syafaatilah, syafaatmu akan diterima.” Aku mengatakan ” Wahai Tuhanku, umatku, umatku.” Dijawab, ” Pergilah, lalu keluarkan dari umatmu siapa yang dalam hatinya terdapat seberat rambut keimanan.” Akupun pergi dan melakukannya. Kemudian aku kembali dan lalu memujiNya dengan pujian tersebut, kemudian aku bersungkur dalam keadaan bersujud kepadaNya. Dikatakan kepadaku ” Angkatlah kepalamu wahai Muhammad. Katakanlah ucapanmu akan didengar. Mintalah, permintaanmu akan dikabulkan. Syafaatilah, syafaatmu akan diterima.” Aku mengatakan ” Wahai Tuhanku, umatku, umatku.” Lalu dijawab, ” Pergilah, lalu keluarkan dari umatmu siapa yang dalam hatinya terdapat seberat zarah atau biji sawi keimanan.” Akupun pergi dan melakukannya. Kemudian aku kembali dan lalu memujiNya dengan pujian tersebut, kemudian aku bersungkur dakam keadaan bersujud kepadaNya. Dikatakan kepadaku ” Angkatlah kepalamu wahai Muhammad. Katakanlah, ucapanmu akan didengar. Mintalah, permintaanmu akan dikabulkan. Syafaatilah, syafaatmu akan diterima.” Aku mengatakan ” Wahai Tuhanku, umatku, umatku.” Lalu dijawab, ” Pergilah, lalu keluarkan dari umatmu siapa yang dalam hatinya terdapat lebih kecil dari berat zarah atau biji sawi keimanan.” Akupun pergi dan melakukannya. ”

Ketika kami keluar dari sisi Anas, aku berkata kepada sebagian sahabat kami, ” Sekiranya kita berjumpa dengan al-Hasan (al Bashri), sedangkan ia berada dirumah Abu Khalifah, lalu kita menceritakan apa yang diceritakan Anas kepada kita. Kemudian kami menemuinya dan mengucap salam kepadanya, lalu ia mengizinkan kepada kami. Kami katakan kepadanya ” Wahai Abu Said, kami datang kepadamu dari sisi saudaramu, Anas bin Malik Kami belum pernah melihat seperti apa yang telah diceritakannya kepada kami tentang syafaat.” Al Hasan mengatakan cepat ceritakan .” Kamipun menceritakan hadis ini kepadanya, hingga sampai pada masalah ini. Ia mengatakan, ” Ceritakan lagi.” Kami menjawab, ” Ia tidak menambahkan kepada kami melebihi ini. Ia mengatakan, ” Sesungguhnya dia telah menceritakan kepada kami semuanya sejak 20 tahun yang lalu. Aku tidak tahu apakah dia lupa atau tidak mau mengatakannya. Karena kalian akan menggantungkan diri pada syafaat Rasulullah. ” Kami katakan, ” Wahai Abi Said, ceritakanlah kepada kami.” Ia pun tertawa seraya mengatakan, ” Manusia diciptakan dalam keadaan tergesa-gesa. Aku tidak menyebutnya kecuali aku ingin mennceritakan kepada kalian. Ia menceritakan kepadaku sebagaimana menceritakan kepada kalian. Ia mengatakan ( Nabi menceritakan ), Kemudian aku kembali keempat kalinya lalu aku memujiNya dengan pujian tersebut, kemudian aku bersungkur dalam keadaan bersujud kepadaNya, maka diperintahkan ” Wahai Muhammad angkatlah kepalamu. Katakanlah, ucapanmu akan didengar. Mintalah, permintaanmu akan dikabulkan. Syafaatilah, syafaatmu akan diterima.” Maka aku mengatakan ” Wahai Tuhanku, izinkanlah untukku terhadap siapa yang mengucapkan la ilaha illallah .” Dia berfirman, ” Demi keperkasanKu, kemulaianKu dn keagunganKu, Aku benar-benar akan mengeluarkan darinya siapa yang mengucapkan la ilaha illallah.”
( Al Bukhari, Muslim-shahih).

Selain Rasulullah saw, orang-orang yang beriman, dengan izin Allah swt dapat memberikan syafaat kepada saudara-saudara muslimnya yang masuk neraka.

Dari Abu Said Al- Khudri r.a, bahwasanya Rasulullah saw bersabda :

” Sesungguhnya diantara umatku ada orang yang memberi syafaat untuk sekelompok besar orang. Diantara mereka ada orang yang memberi syafaat untuk satu kabilah, sebagian lagi ada yang memberi syafaat untuk sekelompok kecil orang, sebagian lagi ada yang memberi syafaat untuk satu orang, sehingga mereka semua masuk surga. (H.R. Tirmidzi ).

Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia menuturkan, Rasulullah saw bersabda :

” Tidaklah perbantahan salah seorang dari kalian tentang kebenaran yang menjadi haknya di dunia ini lebih keras dari perbantahannya daripada kaum mukmin kepada Tuhan mereka tentang saudara-saudara mereka yang dimasukkan ke dalam neraka. Mereka mengatakan , ” Wahai Tuhan kami, saudara-saudara kami dahulu shalat bersama kami, puasa bersama kami, dan berhaji bersama kami, tetapi Engkau masukkan mereka di dalam neraka. Allah berfirman, ” Pergilah dan keluarkan siapa yang kalian kenal dari mereka.” Kemudian mereka mendatangi mereka dan mengenali wajah-wajah mereka. Di antara mereka ada yang telah terbakar api hingga separuh kedua betisnya, dan ada pula yang terbakar hingga kedua lututnya. Mereka pun mengeluarkannya lalu berkata, ” Wahai Tuhan kami, kami telah mengeluarkan siapa yang telah Engkau perintahkan kepada kami. Kata Allah, Keluarkanlah siapa yang dalam hatinya terdapat iman seberat satu dinar. Kemudian Dia berfirman, ” Siapa yang dalam hatinya terdapat iman seberat setengah dinar. Hingga firmanNya, Siapa yang di hatinya terdapat seberat zarah ( keimanan ). ”( An-Nasa’i, Ibnu Majah-shahih )

Dari ’Aisyah ra, Ia berkata : Rasulullah saw bersabda :

” Setiap mayat yang disalatkan oleh orang muslim yang jumlahnya mencapai seratus orang, dimana semuanya memintakan syafaat untuknya, niscaya mayat itu akan memperoleh syafaat ”. ( HR. Muslim )

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda :

” Seorang muslim yang meninggal dunia, kemudian jenazahnya disalati oleh 40 orang yang tidak mempersekutukan Allah, maka Allah menerima syafaat dan doa mereka terhadap orang yang meninggal dunia itu ” ( HR. Muslim)

Dari Martsad bin Abdullah Al Yazanniy, ia berkata : ” Apabila Malik bin Hubairah ra menyalatkan jenazah dan orang yang menyalatkannya itu sedikit, maka ia membaginya menjadi tiga bagian ( baris ), kemudian ia berkata : Rasulullah saw bersabda :

” Barangsiapa yang disalatkan oleh 3 shaf ( baris ), maka ia dapat dipastikan untuk diampuni dosanya ” ( HR. Abu Dawud`dan Turmudzi ).

Dari Anas bahwa Nabi saw bersabda :

” Tidaklah seorang muslim mati, lalu dia disaksikan oleh empat keluarga dari tetangganya, melainkan Allah berfirman : Aku terima persaksianmu mengenainya dan Aku ampuni dosanya yang tidak kalian ketahui. ” ( HR Ahmad- hasan lighairih ).

Dari Anas ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda :

”Setiap orang Islam yang kematian tiga anaknya yang belum sampai dewasa, maka ia akan dimasukkan ke dalam surga atas berkat rahmat Allah terhadap anak-anaknya itu.” ( HR. Bukhari dan Muslim ).
Catatan: dalam hadis lain dikatakan juga dua orang anak.

Dari Syurahbil bin Syuf’ah dari sebagian sahabat Nabi, ia mendengat Nabi bersabda :

” Diperintahkan kepada anak-anak ( wildan ) pada hari kiamat ” Masuklah ke dalam surga ” Mereka mengatakan ” Wahai Rabb, kami masuk setelah bapak dan ibu kami masuk ”Mereka pun datang, lalu Allah berfirman ” Aku melihat mereka sebagai orang-orang yang tidak tertolak, masuklah ke dalam surga !” Mereka mengatakan ; Wahai Tuhan kami, bapak dan ibu kami.” Dia berfirman : ’ Masuklah ke dalam surga, kalian dan orang tua kalian.” ( HR. Ahmad –hasan ).

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra ia berkata ; Rasulullah saw bersabda :

” Jika hari kiamat tiba, Allah akan memberi untuk orang Islam masing-masing seorang Yahudi atau seorang Nasrani seraya berfirman: Inilah tebusanmu dari neraka ”

Dalam riwayat lain dikatakan : Dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra, dari nabi saw beliau bersabda :

” Kelak di hari kiamat orang-orang Islam datang dengan membawa dosa sebesar gunung, kemudian Allah memberi ampunan kepada mereka ”. ( HR Muslim )

Dari Imaran bin Hushain r.a dari Nabi saw, beliau bersabda :

” Sekelompok orang akan keluar dari neraka dengan syafaat Muhammad, lalu mereka masuk surga. Mereka dinamakan jahannamiyyun ( orang-orang jahanam )” ( H.R. Bukhari ).

Masih banyak lagi hadis-hadis lain tentang syafaat yang Insyaa Allah akan penulis coba melengkapinya di kemudian hari.

Beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari uraian di atas adalah:

Pertama ; jangan tinggalkan sholat. Orang mukmin yang tidak sholat akan dijerumuskan ke dalam neraka saqar, yaitu neraka yang penghuninya tidak dimatikan, sebagaimana diterangkan dalam Al Qur’an Surat Al Muddatstsir ayat 26 sd 29.

“ Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu?. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan *. (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.”

*yang dimaksud dengan tidak meninggalkan dan tidak membiarkan ialah apa yang dilemparkan ke dalam neraka itu diazabnya sampai binasa Kemudian dikembalikannya sebagai semula untuk diazab kembali.

Sedangkan bagi orang mukmin yang berdosa, tetapi mereka tetap menjalankan sholat, maka mereka akan dimatikan sampai nanti tiba waktunya disyafaatkan, dihidupkan kembali.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Said Al Kudri, ia berkata Rasulullah bersabda :
“ Adapun penghuni neraka yang memang mereka berhak menerimanya, maka mereka tidak mati dan tidak hidup di dalamnya, akan tetapi ada manusia yang masuk ke dalam api neraka karena dosa-dosa mereka atau beliau bersabda, karena kesalahan-kesalahan mereka. Mereka dimatikan dengan suatu kematian, sehingga apabila mereka telah menjadi arang, barulah diizinkan untuk diberikan syafaat, maka mereka didatangkan kelompok-kelompok, lalu dihamburkan di sungai-sungai surga. Kemudian dikatakan, “ Wahai penghuni surga, limpahkan kepada mereka ( nikmat surga ) !’ Maka mereka menumbuhkan tumbuhan kecil yang keluar dari arus banjir.” ( HR. Muslim ).
Kedua : segeralah bertobat dengan tobatan nasuha,
Ketiga ; perbanyaklah membaca Al Qur’an,
Keempat ; selalu menjalin hubungan silahturakhim terutama dengan para tetangga dan kerabat sehingga pada waktu kita wafat ada yang mendoakan dan menyalatkan,
Kelima ; langkahkan kaki ke masjid mengikuti berbagai majelis taklim,
Keenam ; perbanyak juga salawat kepada Rasulullah saw, karena beliaulah harapan terakhir kita untuk mendapat syafaat di yaumil akhir nanti, bila ketentuan lain sebagaimana diterangkan dalam hadis-hadis tersebut di atas, tidak terpenuhi.

Hidup hanya untuk ibadah

Sejak kita dilahirkan, sampai kelak kita menghembuskan napas yang terakhir, hanya ibadah saja yang dituntut Allah swt dari diri kita. Sejak matahari terbit di suatu pagi, sampai terbit kembali di pagi berikutnya, 24 jam penuh hanya untuk beribadah dan menyembah Allah.

Allah swt berfirman :

dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku ( QS Ad Dzariat, 56 ).

Tentu ada yang bertanya, kalau hanya untuk ibadah, kapan waktunya kita tidur, makan, kerja, santai dan lain sebagainya.

Apakah sebetulnya ibadah itu ? Memang ada perbedaan pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa ibadah itu hanyalah hal-hal yang bersifat ritual saja, seperti salat, puasa, haji dan lain sebagainya. Tetapi sebagian ulama  lagi berpendapat bahwa ibadah itu tidak semata-mata hanya perbuatan yang bersifat ritual tetapi juga hal-hal yang bersifat  non ritual. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ibadah adalah semua perkataan, perbuatan yang disukai, dicintai dan diridhoi Allah swt. Ulama lain mengatakan bahwa ibadah adalah semua perbuatan yang tidak sesuai dengan hawa nafsu kita. Oleh karena itu makan, minum, tidur, kerja atau apa saja bisa mempunyai nilai ibadah.

Agar semua yang kita lakukan itu punya nilai ibadah di sisi Allah swt maka harus dipenuhi 2 persyaratan. Pertama, Rasulullah saw bersabda innamal a’malu bin niat. Sesungguhnya semua amalan itu tergantung niatnya. Niatnya semata-mata hendaknya karena lillahi ta’ala. Tetapi itu saja itu belum cukup, ada syarat  kedua yang harus dipenuhi, yaitu harus ikut caranya Rasulullah saw.

Misalkan, kalau Rasulullah saw katakan, salat fardhu itu harus berjamaah, di awal waktu dan tempatnya di masjid, maka harus kita laksanakan agar punya nilai ibadah. Bagi  yang salat sendirian di rumah, di kantor atau di tempat lain, waktu salatnya juga digandeng-gangdengkan (salat dzuhur mepet ke salat azhar atau salat maghrib mepet ke salat isya), meskipun niatnya lillahi ta’ala, tetapi karena tidak ikut caranya rasulullah saw, maka tidak ada nilai ibadahnya sama sekali. Salat, puasa, makan, minum, tidur, kerja, bepergian, pakai baju, keluar masuk wc dan lain sebagainya, apabila semata-mata dilakukan karena lillahi ta’ala, dimulai dengan doa dan diakhiri dengan doa sebagaimana yang dicontohkan rasulullah saw, maka  semuanya akan bernilai ibadah.

Mengapa juga kita harus beribadah atau menyembah Allah ? Bukankah Allah swt Maha Pengasih, Maha Penyayang. Bukankah Allah swt tidak pernah menuntut balas jasa dari semua makhluk ciptaannya. Para ulama katakan, kalau saja kita tidak menyembah Allah, maka kita akan mudah tergelincir pada penyembahan ilah-ilah yang lain. Mengapa ? Sesungguhnya manusia itu diciptakan Allah swt dalam keadaan lemah dan tanpa daya. Manusia dengan dirinya sendiri tidak akan mampu menundukkan seekor banteng, seekor gajah ataupun seekor harimau. Maka manusia membutuhkan senjata. Dengan senjata manusia merasa dirinya aman. Senjata kemudian dianggap dapat melindungi dirinya dimana saja dia berada.  Tanpa disadari dia telah menjadikan senjata menjadi tuhannya. Padahal senjata tidak akan memberi manfaat bila tidak dikehendaki oleh Allah swt. Satu pasukan bersenjata lengkap di Aceh, tidak dapat melindungi diri mereka dari tsunami. Dua orang pemuda yang memilih berlindung dalam sebuah bunker di kaki Gunung Merapi, menemui ajalnya ketika gunung api tersebut meletus. Pintu bunker yang tebalnya 30 cm tidak mampu menahan awan panas dan kedua pemuda tersebut tewas terpanggang di dalamnya.

Bila kita tidak menyembah Allah, maka kuburan akan menjadi tempat meminta berkah. Bila kita tidak menyembah Allah, maka dukun menjadi tempat meminta rezeki, meminta jodoh, naik pangkat, jabatan, kesembuhan dan lain-lain. Kita akhirnya lebih yakin kepada makhluk daripada kepada Allah.

Mengapa kita harus menyembah Allah, karena kita butuh Allah. Kita butuh kasih sayangnya Allah, kita butuh perlindungannya Allah,  kita butuh rezekinya Allah, dstnya, dstnya. Allah tidak membutuhkan kita sama sekali. Allah swt berfirman :

Hai manusia, kalian semua membutuhkan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Terpuji (QS Al Fathir, 15  ).

Seandainya saja seluruh umat manusia yang ada di  muka bumi ini tidak ada yang  menyembah Allah, tidak sedikitpun akan mengurangi kejayaan, kewibawaan, kemuliaan, keagungan dan kekayaannya Allah. Sebaliknya sendainya saja seluruh umat manusia di muka bumi menyembah Allah, tidak sedikitpun akan menambah  kejayaan, kewibawaan, kemuliaan, keagungan dan kekayaannya Allah. Manusia tidak bisa memberi manfaat dan mudarat kepada Allah. Hanya Allah-lah yang bisa memberi manfaat dan mudarat kepada makhluk-Nya. Bahkan tidak satupun makhluk di muka bumi ini yang dapat memberi manfaat dan mudarat kepada makhluk lain tanpa izin Allah.

Apabila tujuan Allah menciptakan manusia semata-mata hanyalah untuk beribadah kepada-Nya, maka tujuan hidup manusia sesungguhnya  tidak lain adalah mencari ridhonya Allah. Bukan mencari-cari !. Kalau mencari-cari, bisa tersesat pada kelompok Akhmad Muzadeq atau akhmad-akhmad yang lain atau kelompok Lia Eden, atau eden-eden  atau edan-edan yang lain.

Para sahabat adalah orang-orang yang telah sukses hidupnya di dunia dan sukses pula kelak hidupnya di akhirat. Bahkan selagi mereka masih hidup, Allah swt telah memberikan dua gelar kehormatan bagi mereka. Pertama, sebagai orang-orang yang telah mendapat ridhonya Allah dan kedua, sebagai umat terbaik yang pernah dilahirkan sepanjang sejarah umat manusia.

Allah swt berfirman :

” Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Mujahirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah…. ” (QS At Taubah, 100).

” Kamu ( umat Islam ) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, ( karena kamu ) menyuruh ( berbuat ) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah, … “ (QS Ali Imran, 110).

Maka untuk mendapatkan ridhonya Allah tidak lain caranya adalah kita ikuti saja cara hidup para sahabat, semua amalannya dan  semua pengorbanannya. Insya Allah kita akan tergolong dalam kelompok orang-orang yang mendapat ridhonya Allah.

Perniagaan yang menguntungkan

Tempat yang paling disukai Allah SWT di muka bumi adalah masjid, sebaliknya tempat yang paling dibenci adalah pasar. Maka dikatakan orang-orang yang di pagi buta melangkahkan kakinya menuju masjid untuk menunaikan shalat subuh berjamaah adalah orang-orang yang membawa bendera iman. Sebaliknya orang-orang yang melangkahkan kakinya menuju pasar untuk mencari nafkah adalah orang-orang yang membawa bendera setan. Tetapi kebanyakan manusia menganggap bahwa masjid adalah tempat yang paling membosankan, sebaliknya pasar adalah tempat yang paling menyenangkan.

Pasar dalam konteks kehidupan sekarang , bukan lagi hanya sekedar pasar tradisional seperti pada zamannya rasulullah saw dulu, tetapi juga termasuk mal, plaza, pusat-pusat keramaian dan bahkan juga pabrik, tempat kerja dan lain sebagainya. Pasar, tempat usaha ataupun tempat kerja dianggap sebagai tempat yang menyenangkan karena dapat memberikan keuntungan materi yang banyak sedangkan masjid dianggap sebagai tempat yang membosankan karena sama sekali tidak dapat memberi keuntungan yang nyata.

Allah swt berfirman : “ Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu kuatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (QS At Taubah, 24)

Padahal seberapa banyakpun keuntungan yang diperoleh, seberapa banyakpun harta yang bisa dikumpulkan, tidak sedikitpun yang bisa dibawa ke akhirat. Bahkan ke dalam liang kubur sekalipun hanya membawa selembar kain kafan.

Rasulullah SAW bersabda :’ Ada tiga hal yang mengikuti kepergian jenazah, yaitu keluarga, harta dan amalnya. Dua diantaranya akan kembali, hanya satu yang tetap menyertainya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan yang tetap adalah amalannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perniagaan dunia hanya memberikan keuntungan yang sifatnya sementara. Perniagaan yang sesungguhnya adalah perniagaan dengan Allah. Dalam sebuah hadis dari  Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah SAW bersabda :

Siapa saja yang takut, ia harus berangkat lebih pagi, ia akan lebih cepat sampai ke tempat tujuan. Ingatlah bahwa dagangan Allah itu mahal. Ingatlah bahwa dagangan Allah itu adalah surga “. (HR Tirmidzi).

Maksudnya adalah siapa yang lebih dahulu terutama dalam berbuat amal saleh akan mendapatkan hasil yang lebih cepat. Di akhirat kelak hasilnya adalah surga.

Allah SWT juga berfirman dalam Al Quran :

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang menyelematkan kamu dari azab yang pedih, yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai dan memasukkan kamu ke dalam tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keuntungan yang besar“ (QS As Saff,10 sd 12).

Berjihad atau berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri, itulah perniagaan yang sesungguhnya. Berjuang di jalan Allah banyak caranya, tidak harus bertempur di medan perang, tidak harus menjadi seorang kiai, tidak juga harus menjadi seorang santri. Dalam surat Yusuf ,108 Allah SWT berfirman :

Katakanlah hai Muhammad, inilah jalanku, mengajak kepada Allah, kepada kabar gembira, aku dan para pengikutku, Maha Suci Allah dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang musyrik.”.

Mengajak manusia mengenal Allah, mengajak manusia kembali taat kepada Allah adalah salah satu bentuk diantara sekian banyak perjuangan di jalan Allah.

Dari Abu Hurairah r.a ia berkata, sesungguhnya Rasulullah bersabda :

Siapa saja yang mengajak kepada kebenaran, maka ia akan mendapat pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan siapa saja yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun” (HR. Muslim).

Jadi apabila kita mengajak 10 orang untuk taat kepada  Allah, maka kita akan memperoleh pahala kesepuluh orang tersebut tanpa mengurangi pahala yang bersangkutan. Bila kesepuluh orang tersebut mengajak masing-masing 10 orang lagi maka kita akan memperoleh pahala 10 ditambah 100. Apabila seratus orang tersebut masing-masing mengajak 10 orang lagi, maka kita akan memperoleh pahala 1000 ditambah 100 ditambah 10, demikian seterusnya. Mengajak manusia kepada amalan-amalan yang ganjarannya berlipat ganda, itulah perniagaan yang menguntungkan.

Apakah ada amalan yang dapat memperoleh ganjaran yang berlipat ganda seperti itu ?.  Puasa di bulan ramadhan memang akan memperoleh pahala berlipat dibanding puasa di hari biasa. Salat di masjidil Haram, masjid Nabawi akan memperoleh pahala yang berlipat di banding salat di masjid lain. Tetapi puasa ramadhan hanya 30 hari dalam setahun. Salat di masjidil Haram dan Nabawi kesempatannya hanya pada waktu haji dan umrah.

Menegakkan amar makruf dan nahi mungkar adalah juga hak saudara muslim kita. Ada 2 hadis yang terpisah tentang hak saudara muslim ini. Hadis yang pertama menyebutkan ada lima hak saudara muslim yang harus ditunaikan yaitu pertama, menyampaikan salam, kedua bila saudara kita bersin dan mengucap alhamdulillah maka harus dijawab dengan ucapan yarhamukallah, ketiga melayat dan mengantar ke makam yang wafat, keempat menjenguk yang sakit dan kelima memenuhi undangannya. Dalam hadis yang lain dikatakan hak saudara muslim kita adalah mengajak mereka untuk berbuat “ amar makruf, nahi mungkar “. Hadis yang terakhir ini bila tidak ditunaikan maka di akhirat kelak akan diminta pertangungjawabannya.